Mau Menelan Pil Pahit – Serial Cara Sukses Bisnis BP

Mau Menelan Pil Pahit. Apa yang kita harapkan di bisnis BP? Jika jawaban kita masih sama dengan saat kita bergabung di awal, bisa dipastikan itulah impian terkuat kita.

Jika jawabannya berbeda, maka ada yang perlu dievaluasi terutama soal niat. Betul, niat. N-I-A-T.

Pondasi dasar yang harus diperkuat memang soal niat. Setiap melakukan kebaikan apapun, pondasinya ada di niat.

Bukankah impian kita berupa kebaikan? Impian berhaji atau menghajikan. Impian umrah atau mengumrahkan. Impian bangun rumah sendiri atau membelikan rumah orang tua.

Mau Menelan Pil Pahit

Semua ini berupa kebaikan. Maka pondasinya, yaitu niat, harus diluruskan. Harus dimurnikan. Harus disucikan.

Bahkan ketika kita bermimpi menjadi seorang shine dengan penjualan ribuan botol sekalipun, pondasi niat tetap harus terjaga.

Kita semua sudah tahu petunjuk Nabi soal niat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Baik, kembali soal bisnis BP. Kita sudah menentukan impian besar, kita juga sudah berkali-kali memperbarui niat dalam perjalanannya.

Tapi, ada satu hal yang masih perlu kita ingat meskipun sudah melakukan perjalanan bisnis yang cukup jauh.

Apa itu? Jika ingin terus bertumbuh, maka harus siap berada di “zona tidak nyaman”. Inilah bisnis. Tidak ada zona nyaman dalam bisnis.

Ibarat orang yang sampai puncak gunung, dia tetap harus bersusah payah untuk kembali turun. Dalam bisnis pun seperti itu.

Ketika kita sudah berada di zona ratusan atau ribuan botol, kita jangan berhenti di zona ini. Kita harus mau membimbing mitra lain agar bisa menjual ratusan atau ribuan botol juga.

Pada tahun 1908, psikolog Robert M. Yerkes dan John D. Dodson menjelaskan bahwa untuk memaksimalkan kinerja, kita memerlukan keadaan kecemasan relatif – ruang di mana tingkat stres kita berada, dan sedikit lebih tinggi dari biasanya. Ruang ini disebut “Kecemasan Optimal”, dan berada di luar zona nyaman kita.

Jika mau menelan pil pahit, inilah yang harus kita telan

Tidak ada masa untuk leha-leha. Apalagi bagi seorang muslim yang beriman. Ketika kita sudah melakukan suatu urusan tertentu yang berupa kebaikan, maka kita harus segera melakukan kebaikan lain.

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS. Al-Insyirah: 7-8)

Untuk mendapatkan sesuatu yang bernilai besar, kita harus rela untuk merubah kebiasaan lama. Kita harus melepas semua rasa malas dalam diri kita.

Membunuh rasa malas dalam diri, itulah hal tersulit yang sebenarnya.

Ya, inilah bagian tersulit. Coba kita koreksi lagi, sudah berapa banyak database yang kita punya dalam perjalanan bisnis di BP?

Ada yang sampai puluhan ribu? Bagus. Kalau belum, why? Are you so busy? Sesibuk apakah aktifitas kita sebenarnya? Hanya Allah dan diri kitalah yang tahu.

Belum lagi soal ikhtiar langit yang sering kita gadang-gadang. Ikhtiar yang tidak berkaitan dengan orang lain. Ikhtiar yang sangat berdampak pada kehidupan dunia hingga akhirat kita.

Mau Menelan Pil Pahit? Coba jawab pertanyaan berikut di dalam hati terdalam;

Berapa rokaat tahajud kita? Sudah rutin 11 rokaat?

Berapa kali kita istighfar dalam sehari? Sudah 1000 dalam sekali duduk di sepertiga malam?

Berapa juz tilawah kita sehari? Sudah rutin 10 juzkah?

Berapa rokaat sholat dhuha kita? Sudah rutin 12 rokaat?

Berapa rokaat sholat rowatib kita? Sudah rutin 12 rokaat mengiringi sholat wajib?

Bagaimana dengan puasa sunnah kita? Sudah rutin tiap Senin dan Kamis?

Terlebih lagi, seberapa cepat kita menjemput panggilan sholat ketika adzan berkumandang? Apakah begitu adzan kita langsung bersiap?

Jika hal itu belum dilakukan secara rutin, masihkan kita punya muka di hadapan Allah untuk meminta banyak hal?

Duh, rasanya kok malu sekali ya. Allah sudah menghamparkan peluang amal shalih yang begitu luas, tapi kitanya masih berat untuk melakukannya.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana yang dialami orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Kapankah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)

Sebelum kita berbicara soal teknis dalam jualan, inilah yang perlu kita benahi dari sekarang. Ikhtiar langit, “hubungan” kita dengan Allah sebagai hamba.

Memang betul, semua amal shalih kita tidak boleh diniatkan hanya sekadar untuk “bisa menjual ribuan botol”. Ini sangat kecil di hadapan Allah.

Kita niatkan amal shalih harian kita untuk Allah. Kita biasakan melakukan hal itu sampai keikhlasan kita benar-benar murni. Kita lakukan amal shalih, hingga hanya sedikit terbesit soal dunia.

Kenapa? Karena pada saatnya nanti kita sudah menjadi sukses dengan bergelimang harta, hal pertama yang kita ingat adalah kepentingan Allah dan Rasul-Nya. Indah sekali bukan?

Maka dari itu, kita harus siap menelan pil pahitnya. Kita harus mampu membunuh rasa malas dalam diri kita. Kita harus keluar dari zona nyaman.

Mulailah semua itu dari ikhtiar langit, yaitu hubungan kita dengan Allah melalui amal shalih pribadi. Jika sudah terbiasa, insya Allah, kehidupan kita menjadi begitu lapang.

Oke selamat mencoba. Semoga dimudahkan.