Ingin Sukses? Harus Berani Melangkah dan Berani Berproses

Berani Melangkah Berani Berproses

Kita bisa belajar dari Purdi E. Chandra, pendiri Bimbingan Belajar Primagama yang sangat fenomenal. Awalnya di tahun 1981 dia tidak puas mengikuti kuliah dengan pola yang sangat membosankan menurutnya. Akhirnya saat itu Purdi nekat meninggalkan dunia kampus tanpa meraih gelar sarjana.

Dia berpikir, gagal jadi sarjana bukan berarti gagal meraih cita-cita. Selama masih punya impian dan berani berproses, kesuksesan bisa diraih.

Di tahun 1982 Purdi kembali serius dalam merintis bisnis Primagama, yang tadinya berupa bimbingan tes kemudian berubah menjadi Lembaga Bimbingan Belajar Primagama.

Bisnis bimbel tersebut dia jalankan dengan jatuh bangun dari awalnya hanya dua orang peserta hingga akhirnya membludak dan harus membuka cabang di ratusan kota.

Berani Berproses, Berani Gagal (di Awal)

Berani Berproses, Berani Gagal

Gagal, adalah kata yang sangat dihindari kebanyakan orang. Kata ini sangat tidak enak didengar dan seolah hina sekali di masyarakat. Padahal aslinya gagal itu bagian dari berproses. Berani menghadapi kegagalan, artinya berani berproses.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kita lebih senang melihat orang yang terlihat sukses secara zahir, dibanding orang yang sedang berproses dan jatuh bangun.

Kita lebih silau dengan hasil yang dicapai orang lain sehingga membuat kita justru tidak sabar dalam berproses. Inginnya langsung bermimpi tanpa harus melewati tidur malam, hehehe.

Seorang pebisnis harus sabar dalam berproses. Kesuksesan orang lain kita jadikan sebagai motivasi dan pelecut agar kita tidak mudah ciut dalam menghadapi tantangan. Jika dia bisa maka kita pun juga bisa melebihinya, jika Allah berkehendak.

Jatuh bangun dalam menjalankan bisnis adalah hal biasa. Cacian dan nyinyiran dari mulut netizen atau tetangga, itu bagian dari pemicu semangat kita. Bukan malah melunturkan tekad.

Jangan sampai malu hanya karena terlihat sedang merintis usaha, tapi malulah ketika kita mudah merintih di hadapan manusia. Mereka nyinyir bisa jadi bukan karena iri, tapi karena mereka ingin kita sama dengan keadaan mereka yang kelam. Duh.

Ketika ngga punya modal, jangan harap orang lain akan bantu dengan suka rela apalagi sampai berharap gratisan. Jangan pernah berharap ada bank tanpa bunga yang siap sedia membawakan dana hibah untuk modal usaha.

Berani Berproses, Terus Tingkatkan Kapasitas Diri

Apakah kehidupan pebisnis itu begitu mengerikan? Tidak juga. Karena semua itu sebenarnya hal yang biasa dilalui oleh para pebisnis pemula. Jatuh bangun, penolakan atau nyinyiran yang datang menerpa akhirnya membuat kita terbiasa dan seolah mati rasa dengan hal-hal negatif semacam itu. Padahal aslinya kita cuek saja.

Sebagai pebisnis kita harus punya pola pikir yang suka bertumbuh, bukan statis diam di tempat merenungi setiap cobaan. Kita pahami bahwa kehidupan pebisnis tidak luput dengan ujian yang membuatnya panen pujian jika ia mampu bertahan. Tapi bukan itu yang menjadi tujuan, karena kita punya hal mulia yang kita impikan.

Kalau kata salah satu aktor Hollywood, Richard Gere, kegagalan itu penting bagi karier siapapun. Tentu saja dia mengatakan hal ini sesuai pengalaman karirnya ya.

Berani Berproses, Terus Tingkatkan Kapasitas Diri

Maka sebagai pebisnis kita harus paham bahwa setiap kegagalan adalah keniscayaan. Seorang pebisnis harus siap dan berani berproses, melewati kegagalan dan meraih sukses.

Selama ujian kegagalan tersebut tidak menjadi sebab kematian seseorang, maka orang tersebut masih diberi kesempatan untuk mencapai hal yang lebih baik lagi di masa depan. Istilahnya, “Jika ujian tidak membuatmu mati, maka harusnya menjadikan kamu lebih kuat.”

Tapi sayangnya masih banyak orang yang takut berproses karena tidak ingin terlihat gagal oleh orang lain. Biasanya mereka yang punya pikiran seperti ini disebabkan karena pertama, sering menilai kemampuan diri terlalu rendah. Kedua, setiap bertindak sering terpengaruh oleh mitos yang muncul di masyarakat. Ketiga, biasanya karena terlalu “melankolis” dan suka memvonis diri, bahwa dia dilahirkan dengan nasib buruk. Keempat, cenderung masih memiliki sikap tidak mau atau tidak mau tahu dari mana kita harus memulai kembali suatu usaha.

Dengan mengetahui hal-hal tersebut semoga membuat kita semakin yakin untuk bisa mengatasi kegagalan dan lebih berani berproses menuju sukses. Maka, sebaiknya kita juga jangan suka mengukur seorang pebisnis dengan menghitung berapa kali dia jatuh. Tapi ukurlah, berapa kali ia bangkit kembali.